Postingan

Benchmark 2 : Climb to The Future

Tadinya saya berazzam kalau tulisan lalu adalah tulisan serius terakhir saya, ingin rasanya kembali menulis cerita fiksi lagi. Bukan apa-apa, menulis fiksi itu secara mental tidaklah terlalu berat karena tidak perlu memikirkan tersundutnya sebagian orang. Tapi alhamdulillah, belum satupun ada orang keberatan oleh tulisan saya, mudah-mudahan itu artinya kedewasaan kita sudah tumbuh. Andai ada yg tersundut juga, percayalah tulisan ini hanya dibuat dgn niat baik untuk meredakan tekanan di hati saya. Blog ini hanyalah sebuah safety valve, sumber tekanannya masihlah ada dan menyala. Jadi jangan bosan ya! Menanti Buah Kepala Saat saya melihat foto profil BBM Supriadi menampilkan dia di depan alat kimia canggih saya sudah merasa benchmark kali ini akan berbeda. Sayapun bertanya sedikit tentang apa yg dilihat mereka di Paiton IPP. Supri menjawab dgn antusias tentang alat-alat nan canggih di Lab, Dhini menjelaskan betapa melting-nya (percayalah,saya pun tidak faham artinya!) Supervisor...

Benchmark : Back to The Future

Sudah lebih dua tahun sejak saya secara berkelanjutan menulis catatan lepas di Blackberry seperti ini, yang awalnya karena acara benchmark. Saat itu saya ditugaskan benchmark Lingkungan ke PJB Muara Tawar di Bekasi bersama Nia. Pengalaman itu dulu saya tuliskan dalam dua seri tulisan yang saya buat di dalam kamar mess yang saking barunya masih bau cat (dan itu membuat saya mual), di KRL Jakarta Kota-Cilebut dan disempurnakan berkali-kali di Malang. Saya pun masih ingat kesan pertama saya saat masuk ke gerbang unit pembangkitnya : Its smiling !. Dan hebatnya, itulah juga kesan pertama saya saat masuk ke gerbang PJB Gresik kemarin. Rupanya Smiling Powerplant begitu dijiwai oleh rekan-rekan PJB. Kalau dulu kami datang ke sana dalam misi Proper sehingga perhatian saya sangat tersita untuk masalah lingkungan. Kali ini tugas jalan ini khusus mengamati sisi kimia pembangkit, sisi yang saya kurang saya sukai. Meski begitu judul penugasannya, kali ini pun saya justru tidak melihat ke san...

My 2nd Mistakes : Menghindari Ujian

Elf kami melaju dari Malang, sebagian besar penumpang tertidur seperti biasa, namun saya sedang tenggelam dalam salah satu seminar yang mahal. Pak Guru menghajar saya dengan satu pukulan telak, membuat saya terhuyung dan terjerembab ke tanah. Saya mencoba bangkit sambil menahan rasa menusuk dan panas di tengah dada yang bersamaan dengan itu rontok juga beberapa beban yang saya simpan di pundak selama ini. Belum sempat menarik nafas, badan masih mencari keseimbangan, beliau sudah menyerang lagi. Peti Perasaan Apa yang kamu rasakan saat kamu memiliki ide lalu ide tersebut diabaikan? Saya tahu sebagian orang akan mengatakan " just give another try !". Tapi apa yang akan kamu katakan jika hal itu terjadi terus menerus selama hampir delapan tahun? Saat itu sekitaran 2007-2008, saya merasa berada di puncak kreatifitas. Dengan inisiatif sendiri saya membuat perancangan perubahan suatu alat yang saya jadikan juga materi utama Tugas akhir kuliah. Menyadari tidak pintar ka...

My 1st Mistakes : The First from The First

Menurut saya pada awalnya bekerja dengan baik adalah salah satu cara untuk bisa kembali ke Jawa barat. Tinggal di kampung orang, tanpa memahami sepenggal kalimatpun sangat tidak menyenangkan. Oleh karena itu di buku catatan harian saya menuliskan motto hidup sementara : "One step ahead !" . Hanya satu langkah saja tergetnya karena saya bekerja dengan seorang rekan sesama kimia dari Bandung. Menurut pemikiran saya tentu saja tidak mungkin kami berdua bisa dipulangkan semua, jadi sebagaimana kisah rusa dan singa, ini adalah perlombaan siapa melangkah lebih cepat. Namun pemikiran semacam itu membuat saya jadi sangat kompetitif. Saya melahap habis buku-buku kimia di plant, mengulang-ulang hampir semua metoda pengujian dan perhitungan teknis kimia demi satu langkah di depan. Saya rela menghabiskan malam-malam panjang di plant dalam lembur yang tidak dibayar, membantu orang lain dalam pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan kimia dan mengikuti operator-operator senior bek...

My Mistakes : The Opening

Suatu waktu Ustadz Jajat bertanya kepada kami tentang apa sebab manusia berjalan dengan tangan diayunkan. Kami bertiga tidak sepakat dalam jawaban, tapi reaksi kami sepakat begitu tahu jawabnya. Ustadz bilang sebabnya karena manusia yang berjalan masih mengenakan celana. Tanpa mengenakan celana kedua telapak tangan itu pasti jelas akan ditaruh di mana. Tentu ukurannya sama menurut Fikih : berakal, manusia yang tidak berakal tangannya tetap mengayun santai walau berjalan tak bercelana. Dialog itu terjadi mendekati medio  dekade 90-an saat kami masih merintis majlis ilmu di depan rumah saya. Karena kita berakal maka kita pun sama, bukan tentang berjalan tanpa celana, tapi tentang aib kita. Setiap kita akan selalu sekuat tenaga menutupi aibnya, walau sering kali aib itu ditutupi dengan aib yang lain. Tulisan ini membahas tentang aib saya, tidak ingin saya tutupi bukan karena saya tidak berakal tapi karena saya merasa takut justru akal saya akan hilang karenanya. Adalah hal yang s...

Orang - orang di Tingkatan ketiga

Orang bilang semakin tua usia kita, semakin cepat rasanya waktu kita tinggalkan. Seperti saya , saya masih ingat siang itu, saat pertama Dhini datang ke ruangan Lab ini. Saat itu saya sedang menghadapi tiga orang anak PKL yang sangat spesial. Ya, they were so special for me . Bagaimana tidak, untuk mengajari mereka sistem external treatment saja saya harus menggunakan permainan "Cari Kartunya!". Yang saya tidak ingat apakah Dhini juga mengikuti permainan itu atau tidak. Untuk bisa membaca level tangki hidrazin dengan tepat mereka harus rapat bertiga berkali-kali, rasanya selevel rumitnya dengan sidang isbath Kemenag tiap akhir bulan Sya'ban. Saya yakin Dhini masih sangat ingat bagaimana serunya Lab kita saat itu, apalagi karena kita punya lebih dari sepuluh tangki kimia. Mereka adalah sedikit dari orang-orang beruntung yang bisa menangis karena saya. Hehehe... Sejujurnya saya sangat bingung harus bagaimana terhadap Dhini saat itu. Ada banyak hal yang mengganggu f...

Mau Dirikan Khilafah? Mulailah Dari Sekarang!

Gambar
Oleh : Ustad Ahmad Sarwat, Lc. MA Salah satu yang membuat kita berdecak kagum kepada sejarah umat Islam dalam masa-masa khilafah Islamiyah adalah persembahan yang diberikan tiap khilafah itu kepada umat manusia. Salah satu persembahan yang utama adalah jaminan pendidikan dan kesehatan buat semua orang, bukan hanya umat Islam, tetapi semua pemeluk agama. Perguruan Tinggi di dunia Islam sejak dulu tidak pernah memungut bayaran dari para mahasiswanya. Sebaliknya, semua mahasiswa malah mendapatkan gaji dan tunjangan dari kampusnya. Baik kampus itu milik negara atau pun milik swasta. Maka tidak heran kalau dunia pendidikan saat itu sangat maju dan berkualitas. Sebab semua orang yang ingin belajar, mendapatkan bantuan dari semua pihak. Bukan saja dari negara, tapi dari semua elemen masyarakat. Dan gratisnya pendidikan adalah ciri sebuah khilafah Islamiyah. Kalau hari ini ada keinginan untuk mengembalikan lagi khilafah, rasanya sangat tepat kalau ciri-ciri itu kita mulai lebih dah...